Perkembangan Doktrin Strategi Militer India dalam Menghadapi Musuh pada Dua Arah

India_China_Pakistan_flag

Sumber Photo: http://www.philosophicalanthropology.net/2012/05/india-pakistan-and-china-all-pals.html

Baru-baru ini, Foreign Policy online mengeluarkan sebuah artikel berjudul The Most Dangerous Border in the World yang ditulis oleh Ely Ratner dan Alexander Sulivan. Di dalam artikel tersebut dituliskan bahwa China mencoba untuk merangsek ke daerah Line of Actual Control (wilayah perbatasan India-China). Artikel tersebut menjelaskan beberapa alasan melatarbelakangi ketegangan tersebut; yaitu komplain China terhadap penampungan pengungsi Tibet yang diberikan oleh pemerintah India (di daerah Dharamshala) dan respon terhadap pemerintahan Tibet di pengasingan yang melancarkan agenda disintegrasi China. Di sisi lain, India cemas oleh rencana China untuk membangun bendungan di sungai Brahmaputra, yang berasal dari Tibet tapi mengalir ke India, dimana puluhan juta orang menggantungkan hidupnya.  Ketegangan yang terus menerus ini bukan tidak mungkin menghasilkan kulminasi, melihat China yang seringkali melakukan proxy war dengan menggunakan Pakistan saat menghadapi India. Dan India bersiap untuk menghadapi sebuah perang dari dua arah. Tulisan ini menjelaskan tentang bagaimana perkembangan doktrin terjadi di dalam tubuh militer India dalam menghadapi musuh pada dua arah.

Perkembangan struktur kekuatan militer dan perubahan pola penyebaran tentara berikut peralatan perang dari dua arah perbatasan – China dan Pakistan – telah menghasilkan perkembangan/evolusi doktrin perang bagi ahli strategi militer India. Pasca perang Kargil (1999), perencana militer India tersadar dan mulai mendiskusikan berbagai cara dan alat untuk persiapan perang di daerah teritorial musuh. Terdapat sebuah keyakinan yang kuat dari tokoh-tokoh kunci pertahanan India terhadap kemungkinan adanya perang dua arah, dimana Pakistan dan China berkolaborasi untuk menyerang India secara bersamaan.

Dalam konteks tiga negara, yang kesemuanya memiliki misil balistik berbahan nuklir (nuclear tipped ballistic missiles) yang dapat digunakan pada dua arah, India mencoba untuk meningkatkan persepsi terhadap ancaman dari dua arah, yang karenanya tentara India berada dalam perdebatan serius perihal bagaimana cara mengatasi serangan dari dua arah secara bersamaan.

The Line of Actual Control (LAC) / Garis Kontrol Perbatasan dengan China yang membentang dari Arunachal Pradesh di arah timur ke Ladakh di sebelah barat akhir-akhir ini menjadi semakin memanas, dimana China terus melakukan provokasi melalui transgresi dan invasi dari sepanjang daerah perbatasan. Kementrian Urusan Luar Negeri India mengatasi keadaan dengan menerangkan pada publik bahwa LAC belum mempunyai kejelasan, yang menyebabkan miskonsepsi dan menghasilkan kesalahan-kesalahan bagi tentara penjaga perbatasan di kedua Negara.

Namun laporan menunjukkan bahwa serangan-serangan mendadak dari pihak Cina di sektor Arunachal terjadi secara sengaja, melihat sektor tersebut memang masih menjadi daerah persengketaan. Perbatasan dengan Pakistan tidak kalah panasnya, serangan di daerah perbatasan oleh kelompok bersenjata adalah pemandangan biasa. Tentara India cenderung terperangkap, dimana mereka hanya diperbolehkan untuk membalas serangan namun tidak untuk memberikan pelajaran.

Disini sudah sangat jelas bahwa ketegangan perbatasan India-China maupun India-Pakistan dapat meletus sewaktu-waktu dan sedikit tindakan provokatif akan sangat mungkin mempengaruhi kedua negara secara bersamaan. Mungkin sulit untuk mengatakan apakah Cina akan memanfaatkan konfrontasi antara India dan Pakistan, namun Pakistan tidak diragukan lagi, pada kondisi konfrontasi India dan Cina, akan memanfaatkan keadaan tersebut.

Sejak India menolak permintaan Cina untuk menyerahkan daerah Tawang di Arunachal Pradesh, kerjasama perbatasan Cina-India memang semakin memburuk. Sama halnya, Pakistan masih menaruh harapan untuk merebut Jammu dan Kashmir melalui konflik-konflik non-konvensional yang digulirkan dan mengacaukan India dengan melancarkan terorisme yang mereka sponsori.

Dalam skenario ini, tentara India merasa harus siap sewaktu-waktu serangan dua arah muncul dan membutuhkan strategi yang efektif untuk menggagalkan berbagai macam usaha dari kedua belah pihak untuk menyerang tentara dan territorial India, seperti yang terjadi dalam perang 1962 dengan Cina.

Tidak diragukan lagi bahwa situasi sekarang dan nantinya akan sangat berbeda dan kedua negara, India dan Cina, telah merencanakan serangan maksimum di daerah Arunachal walaupun keberpihakan medan lebih banyak berpihak kepada Cina.

Infrastruktur di Daerah Perbatasan

Tentara Cina telah membangun infrastruktur yang mapan untuk mendukung tentaranya dari belakang, sedangkan tentara India masih bergulat dengan buruknya infrastruktur jalan dan fasilitas untuk memposisikan barisan tentara di wilayah-wilayah terdepan. Dalam skenario ini muncul pertanyaan, dapatkah sebuah strategi atau doktrin bekerja jika peperangan terjadi?

Bagaimana Tentara India mengatasi peperangan dari dua arah?

Panglima Militer India menyatakan diperlukannya perbaikan infrastruktur di daerah-daerah perbatasan, karena doktrin peperangan apapun akan sia-sia jika tidak tidak didukung oleh cukupnya ketersediaan infrastruktur, dengannya bersamaan dengan adanya doktrin baru untuk membantu pasukan dalam usaha penyerangan di daerah musuh, wilayah-wilayah terdepan harus memiliki infrastruktur yang kuat untuk mendorong pergerakan tentara masuk ke daerah lawan. Untuk menghadapi Cina di medan perbukitan Arunachal atau Ladakh, Mabes Tentara India mengajukan dipasangnya tentara khusus yang menguasai medan pegunungan.

Konsep peperangan di daerah territorial musuh adalah langkah terdepan dari “Cold Start Concept”, yang menekankan pada agresi/penyerangan daripada sekedar pertahanan yang bersifat pasif. Tentara nasional India telah memanfaatkan penggunaan “Cold Start Concept” ini pasca ‘Operation Pakram’ 2002. Hal ini pula yang membawa satuan jenderal mendiskusikan restrukturisasi poros dan pasukan penyerang, latihan pendukung, dan alat pendukung perang.

Sebagaimana telah dijelaskan oleh salah seorang perwira bahwa tingkat formasi pasukan dengan konsep pertahanan dan penyerangan telah digantikan dengan strategi baru yang menugaskan pasukan untuk mengamankan posisi di daerah kekuasaan lawan dan meletakkan dasar untuk meluncurkan formasi serangan.

Integrasi Penyerangan

Tentara India telah melakukan uji coba terhadap doktrin yang berkembang tersebut sejak tahun 2004. Pada bulan Maret 2004, latihan perang pertama untuk mendemonstrasikan aspek-aspek pada doktrin ‘Cold Start’ yang baru, Divya Astra(Divine Weapon), telah dilakukan untuk menguji coba kemampuan pasukan serang tentara India dalam melakukan integrasi penyerangan dengan menggunakan asistensi tentara Angkatan Udara.

Pada bulan Mei 2005, uji coba kedua ‘the Cold Start Concept’ telah dilakukan di dataran Punjab, Vajra Shakti (Thunder Power), yang menugaskan lebih dari 25.000 tentara. Pelatihan ini dilakukan untuk mendemostrasikan kemampuan unit-unit dari pasukan poros yang sebelumnya lebih berorientasi pada pertahanan untuk melakukan operasi-operasi penyerangan dalam situasi peperangan skala besar.

Enam bulan berikutnya, tentara India melakukan operasi Desert Strike (Penyerangan di Gurun Pasir) di gurun Thar, Rajasthan yang diikuti lebih dari 25.000 pasukan tentara Angkatan Darat bersama dengan tentara Angkatan Udara dari IAF (Indian Air Force).Desert Strike ini merupakan operasi terbesar yang dilakukan sejak tahun 1987, latihan perang Brasstacks yang hampir membawa pada perang India-Pakistan.

Tujuan dari latihan ini adalah untuk menguji coba kemampuan pasukan serang untuk melakukan operasi gabungan dengan skuadron-skuadron serang. Dan juga untuk menguji kemampuan pasukan serang untuk mengalahkan musuh dengan meruntuhkan kondisi psikologis lawan melalui langkah pencegahan, dislokasi, disrupsi.

Unit-unit ditugaskan untuk melakukan pergerakan cepat dan manuver-manuver tingkat operasional di daerah gurun dengan menggunakan peralatan elektronik dan informasi perang.

Pada bulan Mei 2006, Tentara India melakukan latihan Sanghe Shakti (Joint Power) di daratan Punjab yang mengikutsertakan 40.000 pasukan. Latihan ini adalah lanjutan dari latihan Vajra Shakti pada Mei 2005, yang menguji kemampuan pasukan poros pertahanan, pasukan XI, untuk melakukan beberapa dorongan serangan-terbatas di daerah kekuasaan lawan dengan pemberitahuan singkat.

Ashwamedh adalah latihan utama kelima yang di uji coba pada April-Mei 2007 di gurun Thar, Rajasthan yang mengikutsertakan 25.000 pasukan dari 1 pasukan serang. Ini adalah uji coba ‘pro-active war strategy’ baru yang didesain untuk mengevaluasi kemampuan tentara untuk memperbesar kekuatan serangnya melalui jaringan sensor canggih bersama dengan sistem-sistem persenjataannya, yang diusulkan oleh ahli strategi perang berbasis jaringan.

Proxy War

Sebuah perang terbuka akan sangat mungkin terjadi karena hubungan perjanjian rahasia Pakistan-China dalam proxy war dengan menggunakan teroris sebagai eselon terdepan untuk menyerang India dengan terror, khususnya di daerah Jammu dan Kashmir.

Kedua Negara ini melihat selesainya pemberontakan di Jammu dan Kashmir sebagai sebuah bahaya serius yang mengancam klaim mereka terhadap daerah bekas kerajaan Inggris tersebut, yang telah melakukan penandatanganan dengan India pada tahun 1948 secara formal.

Penyerangan illegal telah diubah menjadi sebuah persengketaan yang ditandai dengan pendudukan permanen oleh kedua negara. Berbagai macam ancaman yang berulang kali dilancarkan Pakistan dengan menggunakan senjata nuklir, jika India mencoba untuk mengubah status quo, menggaris bawahi pentingnya geostrategi peran global Beijing dan peran Pakistan didalamnya.

Sejak lama, khususnya selama kepemimpinan militer Jenderal Pervez Musharaf, posisi India dalam melihat dan memperlakukan daerah Jammu dan Kashmir telah difokuskan sebagai daerah sengketa ‘disputed nature’ dari pada sebagai sebuah daerah yang menjadi bagian integral India yang diduduki secara illegal oleh Pakistan dan Cina.

Negara manapun yang melihat kemungkinan terjadinya perang harus benar-benar memahami strategi militernya jika tidak ingin terjebak pada situasi sulit ataupun menemukan jalan buntu.

Namun, pada babak berikutnya India berkemungkinan untuk menghadapi kombinasi kekuatan militer Pakistan dan Cina berikut kelompok intelejen tentara Pakistan (ISI/Inter-Services Intellegence) yang tentunya akan membutuhkan dukungan politik yang kuat seperti pada masa kepemimpinan Indira Gandhi dan kemampuan militer yang diperbaharui untuk memuluskan tujuan dalam jangka waktu yang singkat yang diikuti dengan adanya daerah territorial pertahanan.

Dikarenakan India tidak memiliki kawasan di daerah territorial Pakistan, fokus India pada perang yang akan datang harus dikonsentrasikan pada daerah dudukan Pakistan di Kashmir, dimana Pakistan dan Cina membuat hubungan dan koneksi seperti Karakoram Highway (yang saat ini sedang diperbaiki setelah mengalami longsor dan pelebaran), perencanaan jalur kereta, api dan pipa gas dan minyak sebagai alat untuk melegalkan pendudukan mereka di Kashmir.

Memutuskan Pakistan

Bagi India, memutuskan hubungan Pakistan dari Cina akan memberikan dampak politik yang signifikan untuk menegaskan kedaulatannya terhadap Jammu dan Kashmir dan pada saat yang bersamaan menjadi penting bagi Cina untuk menggunakan kepadatan jalur laut selatan Indonesia dengan jarak tempuh sekitar sebulan dibanding melalui jalur PoK yang hanya memakan waktu dua hari perjalanan dari Gwadar di daratan pantai Balochistan ke Xiangjiang, Cina Barat.

Pemutusan hubungan ini akan memberikan dampak terhadap posisi Cina yang mencoba untuk melancarkan hegemoni kawasan dan dominasi global, dan akan memberikan efek serius terhadap ekonomi Pakistan dan posisinya di Organisasi Konferensi Islam (OKI).

Pada posisi tersebut, Cina dipastikan akan lebih memilih untuk menggunakan strategiproxy untuk menghindari perhatian dunia.

Hal tersebut terbukti saat Cina menggunakan Pakistan dan kelompok jihadi untuk memperluas hegemoninya sepanjang Laut Arab utara untuk mensuplai rudal jarak jauh untuk memukul sebagian wilayah territorial. Memperkuat Saudi Arabia dengan rudal berarti mendukung kebijakannya untuk mengekspor Wahabisme yang menjadi penyebab merebak dan menguatnya jihadi di Pakistan.

Latar belakang ini harus lebih ditegaskan dalam perkembangan skenario konflik di Asia Selatan dan merupakan alasan kuat mengapa Pakistan selalu dan terus menerus memusatkan perhatiannya kepada senjata nuklir dalam usaha percobaan dan penyelesaian masalah untuk memenangkan argumentasinya.

Pilihan India

Dengan adanya skenario tersebut, muncul pertanyaan tentang bagaimana cara India menghadapi kemungkinan perang dua arah dari Pakistan dan Cina bersama kemungkinan dengan bergabungnya aktor non-negara dari Pakistan?

Langkah pertama, mempersiapkan tiga set senjata nuklir di udara, darat dan bawah air sebagai reaksi cepat jika Pakistan atau Cina menggunakan senjata nuklirnya sebagai instrumen penyerangan pertama.

Setelah itu, menerapkan aksi penahan yang kuat di sepanjang perbatasan internasional dan garis perbatasan dengan Pakistan (Line of Control/LoC) maupun Cina (Line of Actual Control (LAC) untuk mencegah/mengontrol/menahan berbagai macam usaha penetrasi yang dilancarkan kedua Negara.

Pada saat yang bersamaan, meluncurkan pasukan khusus India ke daerah Gilgit-Baltistan dan mengambil kendali daerah sepanjang Karakoram Highway. Dengan pengamanan Karakoram Highway, pasukan India dapat memblokir perjalanan masuk jalan raya di Kunjherab Pass di utara yang menghubungkannya dengan Cina dan di daerah Mirpur di selatan yang menghubungkan dengan Pakistan.

Secara bersamaan, India dapat mulai untuk memperluas aksinya di arah barat maju ke Pakistan untuk mencapai tanggul kanal timur Icchogil yang dengannya dapat dijadikan alat untuk mengancam Lahore.

Cabang lainnya yang harus dikonsentrasikan adalah poros Zafarwal di daerah perluasan Samba sebagai alat untuk menggertak Rawalpindi/Islamabad dan menekan turun pasukan Rawalpindi dari tentara Pakistan untuk mencegah mereka bergabung dengan pasukan pertahanan Northern Areas (daerah utara) dan PoK.

Untuk mencegah pasukan Cina masuk melalui Kunjherab Pass, angkatan udara India harus memotong pergerakan Cina sebelum mereka menguasai Karakoram Highway dari daerah kantong Sasgham yang diserahkan Pakistan kepada Cina.

Menurut data pemerintah India, disana terdapat sekitar 4.000 atau 9.000 (menurut data agen intelejen Amerika) pasukan Cina yang menyamar sebagai pekerja di proyek modernisasi dan pelebaran jalan raya Karakoram.

Untuk mengatasi Cina, India bisa bersiap untuk membatalkan perjanjian terkait dengan status Tibet dan menyampaikan kepada penduduk Tibet bahwa India mendukung penuh kedaulatannya (kaum Buddha Tibet saat ini masih berjuang menentang pendudukan Cina atas Tibet sebagaimana Buddha Vietnam menenentang pendudukan Amerika di Vietnam selatan).

Sebagaimana Cina menggunakan jihadi Pakistan untuk mengacaukan India, India dapat melakukan hal yang sama kepada Cina dengan menggunakan pemberontak Tibet.

Jika Pertahanan Rudal Balistik India berhasil mencegah semua nuklir balistik Pakistan dari penyerangan di daerah dan poin-poin vital India, dan angkatan darat berhasil menguasai Karakoram Highway berikut daerah pedalamannya dan memastikan penguatan dan pengiriman bala bantuan, berikut merusak hubungan Cina-Pakistan secara efektif, maka situasi geopolitik akan berganti secara dramatis.

Advertisements

~ by zulkhanip on May 6, 2013.

One Response to “Perkembangan Doktrin Strategi Militer India dalam Menghadapi Musuh pada Dua Arah”

  1. Kalau membaca strategi perang india di artikel tersebut sepertinya orang sedang mabuk dan menganggap lawan sudah tidak mampu untuk bereaksi terhadap india.
    Dari pengalamann perang bangsa china dari zaman ribuan tahun yang lalu sampai terakhir perang china-india maka sangat jelas kelihatan keunggulan strategi perang china terhadap india. Ditambah lagi perkembangan alutsista militer china saat ini,bagaimana india bisa ungguli china dalam hal perang perbatasan. Dalam strategi perang dua arah militer india terhadap china dan pakistan,saya sebagai orang sipil aja bisa merasakan kelemahan atas strategi perang dua arah india terhadap china-pakistan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: